Mengenang Sosok Ulama Kharismatik Muhammadiyah Sulawesi Selatan, KH Fathul Mu'in Dg Maggading - Pilar Indonesia
» » Mengenang Sosok Ulama Kharismatik Muhammadiyah Sulawesi Selatan, KH Fathul Mu'in Dg Maggading

Mengenang Sosok Ulama Kharismatik Muhammadiyah Sulawesi Selatan, KH Fathul Mu'in Dg Maggading

Diposting oleh Pada Jumat, Mei 08, 2020 | No comments

Menelusuri sejarah tokoh-tokoh Islam, khususnya tokoh pergerakan Sulawesi Selatan, memang sangat menarik, karena akan memberikan gambaran utuh bagaimana gerak pemikiran dan dakwah terus mengalir dari satu generasi ke generasi lainnya.

Generasi yang berperadaban adalah generasi yang mengenal sejarahnya, dan generasi yang berakhlak adalah generasi yang menegenal ulamanya.

Artikel singkat ini bertujuan untuk memperkenalkan kembali salah satu tokoh sentral pergerakan Islam, khususnya di Sulawesi-Selatan pada abad ke-20.

Sejak meninggal 35 tahun silam, nama besarnya seakan hilang tenggelam oleh zaman. Tidak pernah sekalipun nama atau perannya terekam di media-media cetak atau pun online. Berbeda dengan murid-muridnya yang tumbuh besar di bawah asuhannya.

Beliau mungkin tidak lagi dikenal, tapi jasa-jasa pengkaderan dan pembinaannya tidak akan pernah dilupakan.

KH. Fathul Muin Dg Maggading (1919-1985). Fathul Muin Dg Maggading dilahirkan pada hari Selasa, 17 Desember 1919 di Desa Pakkali, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Sebagian informasi menyebutkan bahwa nama Fathul Muin terinspirasi dari nama sebuah buku, yaitu kitab Fathulmuīn, yang merupakan salah satu kitab fiqih maẓhab Syafi'ah yang sangat populer.

Lahir dari pasangan H. Ba Alwi dan Ibu Hj. Husnah. Ayahnya, H. Ba Alwi merupakan salah satu pimpinan grup Muhammadiyah Maros 1929. Terkenal dengan keteguhan dan konsistensi memegang prinsip-prinsip syariat Islam. Selain terkenal dengan keteguhan dan keberaniannya, H. Ba Alwi juga terkenal dengan keilmuannya, hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah literatur sejarah berdirinya Muhammadiyah Cabang Pao Tombolo, Kabupaten Gowa.

Haji Ba Alwi yang meninggal pada Kamis, 25 Maret 1971 memiliki hubungan yang cukup baik dengan Buya Hamka. Ketika ditugaskan mempersiapakan Muktamar sekaligus mengembangkan Muhammadiyah di Kota Makassar sekitaran tahun 1930an, Buya Hamka seringkali menginap di rumah Ba Alwi. Oleh karena itu, menurut keluarga Fathul Muin, walaupun tidak pernah belajar secara langsung, akan tetapi, Fathul Muin sempat menimbah pemikiran-pemikiran Hamka ketika mendengarkan diskusi-diskusi Buya Hamka bersama ayahnya.

Fathul Muin Dg Maggading adalah anak kedua dari empat belas bersaudara. Ia lebih dikenal dengan nama Dg Maggading atau dalam keluarga akbar disapa dengan Ba'ba Maggading.

Sebelum memimpin Muhammadiyah Cabang Makassar tahun 1960, pada masa mudanya, ia aktif sebagai pejuang kemerdekaan. Sumbangsi besarnya adalah di bulan Januari 1946, sebuah peristiwa heroik terjadi, di mana para pemuda yang dipimpin oleh Fathul Muin Dg Maggading menurunkan bendera Belanda di depan rumah Controleur, kemudian merobek bagian birunya dan mempertontonkan kepada masyarakat di depan kantor Karaeng Turikale. Peristiwa ini bermakna bahwa masyarakat Maros adalah masyarakat pejuang yang siap berkorban untuk bangsa dan negara.

Peristiwa inilah yang menjadikan Fathul Muin begitu dihargai dan disegani oleh elite pemerintah ketika memimpin organisasi  Muhammadiyah, tidak terkecuali Wali Kota Makassar, Muhammad Daeng Patompo, yang juga merupakan juniornya dalam perjuangan merebut kemerdekaan. Sebagai penghargaan akan perjuangan Fathul Muin, Pemerintah Kabupaten Maros mengabadikan bulan Januari sebagai bulan lahir Kabupaten Maros, yaitu 4 Januari 1471.

Pendidikan, Guru dan Murid

Pengembaraan intelektual Fathul Muin Dg Maggading secara umum dibagi menjadi dua fase. Pertama, pendidikan non-formal, yang dimulai sejak kecil, di mana ia tumbuh besar di bawah asuhan langsung sang ayah, H. Ba Alwi. Karakter keras, kepribadian tegas, dan kematangan ilmu sang ayah terwariskan kepadanya. Ilmu-ilmu agama dasar dipelajarinya dari kedua orangtuanya yang terkenal sangat agamis.

Fathul Muin Dg Maggading terkenal sangat ulet dalam menuntut ilmu, di antara tempat yang telah dijelajahiya adalah Makkah al-Mukarramah. Ulama-ulama Makkahlah yang sangat banyak mempengaruhi cara berpikirnya sekembali ke Tanah Air. Selain itu, beberapa wilayah di Indonesia pun dikunjunginya, seperti Bukit Tinggi, Pandang Panjang, Sumatera Barat.

Selain perjalanan ilmiah ini, kematangan intelektualnya semakin terasah dengan hadirnya tokoh-tokoh Muhammadiyah dari Sumatera yang diutus ke Makassar, seperti Prof. H. Darwis Zakariah; S.S Jama’an, Gazali, Sachlan, dan Haji Kamaluddin. Ditambah dengan kegemarannya berdiskusi dengan ulama lokal yang sezaman dengannya, di antaranya Dr. S. Madjidi, KH. Ahmad Marzuki Hasan, KH. Djabbar Asyiri, KH. Sanusi Ma’gu dan ulama yang lainnya di Sulawesi Selatan.

Fase kedua, yakni pendidikan formal. KH Fathul Muin mulai menempuh studi sekolah dasar Belanda Inlandsch School (Sekolah Bumi Putera) di Maros. Kemudian melanjutkan pendidikannya di MULO. Sekolah lanjutan tingkat pertama singkatan dari Meer Uitgebreid Lager Onderwijs itu setingkat dengan dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ia juga pernah mengenyam pendidikan Mua’llimin Padang Panjang Bukit Tinggi Sumatera Barat.

Keilmuan Fathul Muin Dg Maggading bukan hanya didapatkan dari bangku sekolah, akan tetapi juga dihasilkan dari kesungguhannya menekuni berbagai jenis keahlian. Kemampuan skill bahasa juga sangat baik. Ia menguasai tiga bahasa asing, yakni bahasa Arab, bahasa Inggris dan bahasa Belanda. Ia terkenal juga sebagai seorang penghafal al-Quran (Hafidz) yang memiliki lantunan bacaan al-Quran yang khas, orang yang pernah salat bersamanya memiliki kesan tersendiri dengan irama bacaannya.

Di antara tokoh yang secara langsung atau telah mempengaruhi cara berfikir KH. Fathul Muin adalah ulama Sumatera Barat yang telah disebutkan sebelumnya, dan juga ulama lokal Sulawesi Selatan, seperti KH. Malik Ibrahim, KH. Abdurrahman Syihab, Dr. S. Madjidi, KH. Marzuki Hasan, dan KH. Djabbar Ashiri

Bersama tiga kawan seperjuangannya yang lain, yaitu KH Djabbar Ashiri, Dr. S. Madjidi, dan KH. Marzuki Hasan, ke empat ulama ini digelari “Imam Empat” Muhammadiyah Sulawesi Selatan. Mereka dengan kesungguhan berhasil membangun intitusi pendidikan dan pengkaderan yang menjadi cikal bakal perkembangan dakwah di Sulawesi Selatan pada abad 20, yaitu Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah yang bermula di Darul Arqam Gombara Makassar.

Dari hasil pengkaderannya, perjalanan sejarah dan dakwah di Sulawesi-Selatan, ditemukan begitu banyak tokoh masyarakat, muballigh, politisi, yang merupakan hasil binaannya. Mereka berbeda-beda organisasi, tetapi semuanya tetap mengusung semangat sang guru. Di antara murid-muridnya yang sampai sekarang memberikan sumbangsi perubahan dalam masyarakat baik skala nasional maupun skala Sulawesi Selatan. Berikut nama-nama yang pernah dikader langsung oleh Fathul Muin: KH M. Arief Marzuki (Pimpinan Pusat Pesantren Darul Istiqomah), Abdullah Said (Muhsin Kahar) (Pendiri Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak Kalimantan Timur), Dr. Drs. H. Muh. Alwi Uddin (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan Periode 2010-2015), KH. Dr. Muhammad Zaitun Rasmin (Pimpinan Pusat Ormas Wahdah Islamiyah/Sekjen MUI pusat), KH. Muhammad Said Abdul Shamad (Ketua LPPI Makassar), KH. Abdul Djalil Thahir (Pimpinan Pondok Pesantren Darul Aman Gombara Makassar), H. Dain Yunta (Ketua Pertama Yayasan Fathul Muin), Syarifuddin Patna (Politisi PDI-P Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan), Tamsil Linrung (Politisi PKS, Anggota DPD RI dari Dapil Prov. Sulawesi Selatan), Anshar Amiruddin (Anggota Dewan Mudzakarah. Ketua Dewan Pembina Pesantren Hidayatullah Samarinda), Haris Abdurrahman (Mantan Politisi Partai Bulan Bintang Sulawesi Selatan), dan sederetan nama-nama tokoh lainnya di Sulawesi Selatan, seperti Drs. KH. Jalaluddin Sanusi, KH. Bakri Wahid, Drs. H. Usman Maisar, Drs. Muhammad Tahir Hasan, Drs. H. M. Dahlan Yusuf, A. Iskandar Tompo, Drs. H. Zainuddin Sialla, KH Mukhtar Wakka, Agus Dwikarna, Qasim Saguni, Syamsuddin Thalib, H. Nasir, H. Sahabuddin, Arif LA, dll.

Bersambung.......

Penulis: Syandri Syaban, Lc., M.Ag., dosen STIBA Makassar.
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya