Aktivitas dan Karakter KH Fathul Muin Dg Maggading - Pilar Indonesia
» » Aktivitas dan Karakter KH Fathul Muin Dg Maggading

Aktivitas dan Karakter KH Fathul Muin Dg Maggading

Diposting oleh Pada Sabtu, Mei 09, 2020 | No comments

KH. Fathul Muin Dg Maggading memimpin cabang Muhammadiyah Makassar berawal dari tahun 1960, kemudian menjadi ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah tahun 1970 sampai meninggal dunia tahun 1985. 

Muhammadiyah sebagai organisasi dakwah sangat berkembang di masa kepemimpinannya. Pada periode inilah Muhammadiyah memiliki aset usaha yang melimpah ruah, lokasi perkebunan yang sangat luas bekururan ratusan hektar yang berlokasi di Maros, Bone, Bantaeng, dan beberapa wilayah di Sulawesi Selatan.

Pada masa kepemimpinannya berdiri Rumah Bersalin yang kemudian hari berkembang menjadi Rumah Sakit Ibu dan Anak Sitti Khadijah. Demikian halnya dengan berkembangnya dakwah melalui radio dengan adanya radio amatir (Radam) al-Ikhwan yang dijadikan sebagai corong dakwah, yang sangat bermanfaat untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran Muhammadiyah. 

Rumah sakit Ibu dan Anak Sitti Khadijah didirikan oleh tokoh-tokoh Muhammadiyah cabang Makassar dengan tujuan menjadi sumber dana yang bisa menunjang kegiatan-kegitan Persyarikatan Muhammdiyah. Di samping itu, untuk dapat membantu umat pada umumnya dan warga Muhammadiyah pada khususnya di bidang kesehatan. 

Tokoh-tokoh pendiri Rumah Sakit Ibu dan Anak Sitti Khadijah Muhammadiyah cabang Makassar, antara lain KH. Fathul Muin Dg Maggading, H. Abdul Razak Dg Sako, H. Hanafi, H. Chalid, H. Abd. Hamid Perdi.

Pembelian awal tanah rumah sakit ini sebesar Rp 1 juta tahun 1960-an oleh Hj. Rasyidah Dg Bau, adik bungsu KH. Fathul Muin. Pembeliannya penuh dengan perjuangan. Untuk itu, KH. Fathul Muin harus beberapa kali bolak balik Makassar-Jakarta menyelesaikan pembebasan lahan rumah bersalin ini. 

Selain Rumah Bersalin, radio adalah merupakan sarana dakwah yang sangat efektif pada zaman itu, dan ini sangat disadari oleh KH. Fathul Muin Dg Maggading sebagai pemimpin visioner, walaupun pendirian Radio Amatir al-Ikhwan tidak sebagaimana pendirian Rumah Bersalin Sitti Khadijah, di mana KH. Fathul Muin terjun langsung mengurusi pembelian sampai pembangunan. 

Adapun radio amatir (radam) al-Ikhwan ini asal mulanya adalah inisiatif jamaah dan pemuda Muhammadiyah ketika itu yang direstui olehnya. Di sinilah juga tampak fikih dakwahnya, walaupun terkenal begitu kerasnya dalam mengusung pemurnnian ajaran Islam, secara khusus dalam bidang aqidah, akan tetapi pada masalah-masalah wasilah dakwah (metode dakwah) baru ini, baginya tidak menjadi sebuah masalah.

KH. Fathul Muin dari segi fisik ia berperawakan tinggi, tegap, berkulit sedikit gelap, tatapan mata yang tajam, dan bersuara yang lantang. Berani menyuarakan kebenaran serta siap menerima setiap konsekuensi kebenaran yang ia sampaikan. 

Hal ini terbukti dengan keberanianya berhadapan langsung dengan siapa saja, termasuk salah satu Wali Kota Makassar Muhammad Dg Patompo, yang ketika itu membolehkan perjudian lotre totalisatore (Lotto) untuk mencari pemasukan tambahan pembangun kota. Di antara perkataannya yang cukup keras kepada wali kota kala itu; Anda kurang ajar. Apakah tidak bisa Anda membangun Kota Makassar kecuali dari uang haram perjudian?

Oleh karena itu, pada saat terjadinya kasus penggayangan Lotto, walaupun tidak terlibat langsung dalam aksi, akan tetapi pemuda-pemuda yang terlibat, semuanya terispirasi dari ceramah-ceramahnya tentang keburukan yang akan ditimbulkan oleh perjudian ini. Akibatnya, beberapa kali ia harus diperiksa bahkan sempat ditahan pihak berwajib karena dianggap sebagai dalang aksi. 

Konsep amar makruf nahi munkar dihayatinya dengan sangat dalam. Setiap pelanggaran akan direspons dengan cepat sebagaimana ia rutin melakukan pengecekan terhadap aset-aset organisasi.

KH Fathul Muin juga seorang yang wara’. Sifat ini nampak ketika ia memimpin Rumah Bersalin Sitti Khadijah. Sebagai seorang direktur, tidak pernah sama sekali ia memanfaatkan asset milik rumah sakit untuk kepentingan pribadinya. 

Selain itu, ia juga sangat tegas, ketegasannya terlihat ketika menyaksikan ada pelanggaran yang dilakukan oleh anggotanya, apakah itu pelanggaran agama atau pun keorganisasian. Sebagaimana dikeluarkannya sebagian penghuni dari asrama Ta’mirul Masajid karena melanggar aturan.
Seorang yang ulet dan pekerja keras, ia memiliki kelebihan yang jarang didapatkan pada orang lain di zamannya dan setelahnya. Sebagai seorang ulama yang aktivitasnya banyak berdakwah, ia juga adalah seorang pekerja keras yang ulet, hampir semua bisa dilakukannya, berdagang, bertani, berladang, berkebun, beternak semua dilakoninya penuh keikhlasan demi kemajuan dakwah.
Teguh di atas pendirian, KH Fathul Muin dikenal sebagai seorang panutan dalam keteguhan, berbagai masalah harus diresponsnya yang terkadang harus membutuhkan pengorbanan. Salah satu contoh keteguhan yang begitu berkesan dalam kehidupannya adalah ketika menghadapi kasus Lotto, dan Asas Tunggal Pancasila di masa Orde Baru. 

Suatu ketika ditanyakan kepadanya: “Ustadz, kenapa Anda masih terus menyuarakan pengharaman Lotto, sedangkan DPRD dan sebagaian ustad-ustad telah membolehkannya!” Mendengarkan pertanyaan seperti ini, ia menjawab, “Jangankan DPRD, DPR RI, seluruh dunia pun kalau menghalalkan Lotto, maka saya akan tetap mangatakan bahwa itu HARAM!”

Sebagai salah satu pimpinan Muhammadiyah, KH Fathul Muin Dg Maggading sangat disiplin, dan memiliki dedikasi yang sangat tinggi terhadap organisasi yang dipimpimnya. Hampir setiap kesempatan yang ada, di dalam atau di luar Kota Makassar, dimanfaatkannya untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat melalui ceramah-ceramahnya. 

Masjid Raya Maros merupakan salah satu masjid yang sering dijadikan tempat membagi ilmunya. Dalam ceramah-ceramahnya selalu membahas masalah-masalah yang terkini, dan solusinya sesuai tuntunan al-Quran. Di antara tema-tema ceramah yang seringkali disampaikannya adalah masalah wajibnya kembali kepada al- Quran dan al-Sunnah, pentingnya memahami makna dien, shalat, dan akhlaq.

Yang sangat penting pada diri KH Fathul Muin adalah semangatnya menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam kehidupan sehari-hari. Di antara Sunnah Rasulullah yang kembali dihidupkan pada masanya adalah sunnah i'tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan, memperketat aturan interaksi antara laki-laki dan perempuan, sehingga ia memisahkan antara pelajar laki-laki dan perempuan pada proses belajar di kelas, mempermudah urusan pernikahan dan memperketat aturan acara resepsi dengan tidak campur baur, pelaksanaan salat ied dilaksanakan di lapangan dengan memilih tempat di pinggiran kota, dan beberapa Sunnah yang ketika itu telah ditinggalkan oleh masyarakat Muslim, khususnya di Kota Makassar dan sekitarnya. 

Pergi untuk selamanya 

KH Fathul Muin wafat saat melaksankan tugas, yaitu melakukan inspeksi ke salah satu lokasi tambak miliknya dan milik organisasi. Tepatnya di Desa Kuri, Kabupaten Maros, pada hari Rabu, 18 September 1985 di umur 65 tahun. 

Ia meninggalkan dua orang istri, delapan anak, empat putra, dan empat putri. KH. Fathul Muin dikuburkan di pekuburan Bonto Jolo, Maros.

Walaupun sempat ditawarkan kepada pihak keluarga agar jenazahnya dikebumikan di taman makam pahlawan sebagai bentuk penghormatan bagi perjuangan kemerdekaan, di mana sampai KH. Fathul MUI meninggal tercatat sebagai anggota Veteran Kemerdekaan dengan pangkat Mayor. Tawaran pemerintah ini ditolak oleh pihak keluarga dengan alasan amanah. Jauh hari sebelum wafat, KH meninggalkan wasiat jika Allah menakdirkan ia lebih dulu meninggal dunia agar dimakamkan di pemakaman umum.

Penulis: Syandri Syaban, Lc., M.Ag., dosen STIBA Makassar
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya