Pilar Indonesia
» » Pemerintah Indonesia Diminta Bentuk Tim Investigasi Independen Tangani Kasus Uighur

Pemerintah Indonesia Diminta Bentuk Tim Investigasi Independen Tangani Kasus Uighur

Diposting oleh Pada Sabtu, Desember 21, 2019 | No comments

Suasana dikusi soal Uighur yang digelar FORJIM 
Jakarta, Pilarindonesia.com – Pemerintah Indonesia diminta mengambil peran strategis dalam menangani pelanggaran HAM terhadap Muslim Uighur di Xinjiang, Cina.

Peran itu, selain sesuai dengan konstitusi, juga karena Indonesia merupakan Anggota Dewan HAM sekaligus Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB.

"Ada Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM) bahwa warga negara Indonesia berhak melakukan mekanisme internasional membela HAM," kata peneliti Amnesty International Indonesia, Papang Hidayat, dalam diskusi yang digelar Forum Jurnalis Muslim (FORJIM), di Jakarta, Jumat (20/12/2019), sore.

Untuk melaksanakan peran itu, Papang mengusulkan agar dibentuk Tim Investigasi Independen Internasional ke Cina. Tim ini sama dengan yang pernah dibentuk untuk kasus Myanmar maupun Palestina.

“Saya usul, jika diterima anggota tim ini adalah Marzuki Darusman, Makarim Wibisono, dan Kemala Chandra Kirana. Ketiganya pernah terlibat HAM internasional,” kata Papang.

Sikap lainnya, untuk membantu Uighur, adalah mendesak agar pemerintah bersikap lebih keras. Setara dengan sikap pemerintah terhadap isu pelanggaran HAM di Palestina yang diokupasi Israel atau terhadap Muslim Rohingya di Myanmar.

Selanjutnya, pemerintah juga diminta bila ada kelompok Muslim Uighur atau komunitas lainnya yang memimta suaka politik di Indonesia tidak boleh dideportasi.

Berita Terkait Uighur

Aktivis HAM: Pelanggaran Pemerintah Cina Terhadap Uighur Kategori HAM Berat

Awal Mula Islam Sampai kepada Etnis Uighur di Xinjiang 

Papang mengungkap, sepengetahuan dia pernah ada warga Palestina yang berkeinginan meminta suaka politik ke pemerintah Indonesia. Bukannya diterima, malah dideportasi.

“Ini Palestina, apalagi Uighur yang (tingkat pelanggaran HAM-nya) lebih rendah (dari Palestina),” kata dia.

Selanjutnya, Papang mendorong adanya kerja sama dengan berbagai kalangan untuk mengangkat persoalan Uighur. Untuk Indonesia, kata dia, hal ini lebih mudah diterima karena adanya persamaan keyakinan (Islam, red). Tapi, hal itu dipandangnya belum cukup.

“Perlu perluasan aliansi dengan kelompok sipil lainnya. Harus ada aliansi untuk mengangkat isu ini,” pungkasnya.

Laporan : Anwar Aras
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya