Pilar Indonesia
» » Wakil Sekjen MUI Pusat: Polemik Pelarangan Cadar akan Memiliki Dampak Positif

Wakil Sekjen MUI Pusat: Polemik Pelarangan Cadar akan Memiliki Dampak Positif

Diposting oleh Pada Kamis, November 07, 2019 | No comments

Wasekjen MUI Pusat, KH Muhammad Zaitun Rasmin, di acara talkshow ILC TV One. Foto: luwuk.today
Jakarta, Pilarindonesia.com – Wakil Sekretaris Jenderal MUI Pusat, KH. Muhammad Zaitun Rasmin, mengatakan polemik pelarangan cadar akan memiliki dampak positif seperti saat terjadi pelarangan jilbab pada medio 1980.
“Belajarlah dari sejarah, dahulu tahun 80-an, saya masih SMA kelas III. Tahun 80-an, jilbab dilarang di sekolah negeri. Alasannya persis sekarang. Klise. Bahwa ini aturan. Kepala-kepala sekolah memecat dengan tega siswi-siswi yang berjilbab itu hanya dengan alasan tidak sesuai dengan aturan,” kata Ustadz Zaitun—sapaan akrabnya—saat membahas masalah cadar di talkshow Indonesia Lawyers Club TV One, Selasa (5/11/2019), malam lalu.
Ketua Umum Wahdah Islamiyah tersebut menyebut, saat terjadi pemecatan terhadap siswi berjilbab kala itu di sebuah sekolah, muncul sepuluh orang siswi berjilbab di sekolah lain. Sepuluh orang dipecat, muncul seratus orang berjilbab.
“Akhirnya, justru yang memecat siswinya tersebut yang dipecat,” tutur Ustadz Zaitun.
Menurutnya, fenomena atas kesadaran mengenakan cadar dan bercelana cingkrang sudah tidak bisa dicegah. Hal tersebut sudah menjadi hukum global. Informasi yang begitu cepat sudah tidak bisa lagi dibatasi.
Olehnya, Ustadz Zaitun berharap, agar sesuatu yang sudah jelas dasarnya harus dihormati. Kalaupun ada yang menganggap hal itu masih ikhtilaf atau terjadi perbedaan, maka ia meminta agar dikembalikan ke MUI atau NU maupun Muhammadiyah, sehingga tidak bebas nilai.
Ustadz Zaitun pun memperkenalkan ormas yang dipimpinnya, Wahdah Islamiyah, yang berpusat di Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
Dia menegaskan, Wahdah Islamiyah sama sekali tidak mewajibkan kadernya bercadar, tetapi banyak yang menggunakannya. Namun, tidak seorang pun dari mereka yang berpemahaman ekstrem atau radikal.
“Mereka tetap menyanyikan lagu Indonesia Raya. Tetap bersosialisasi. Bahkan terhadap orang-orang di luar Islam sekali pun, tetap bersikap baik,” tegas Ustadz Zaitun.
Dia juga menanggapi penggiringan opini yang mengaitkan cadar dan celana cingkrang yang diidentikkan dengan radikalisme.
 “Tidak ada hubungan langsung antara cadar dan celana cingkrang dengan radikalisme yang negatif. Karena itu, perlu ada indikator yang jelas seseorang itu dikatakan radikal. Hal ini penting agar tidak ada korban-korban dari anak bangsa atas nama memberantas radikalisme,” terang Ustadz Zaitun.
Irfan


Baca Juga Artikel Terkait Lainnya