Pilar Indonesia
» » Film Ati Raja, Momen Perekat Akulturasi Budaya dan Penguatan Nasionalisme

Film Ati Raja, Momen Perekat Akulturasi Budaya dan Penguatan Nasionalisme

Diposting oleh Pada Minggu, November 10, 2019 | No comments

Diskusi buku Skenario Film Ati Raja
Makassar, Pilarindonesia.com - Pemutaran film Ati Raja yang tayang sejak 7 November 2019 di berbagai bioskop di Makassar dan sejumlah daerah di Indonesia, dinilai tepat, karena bertepatan dengan Hari Pahlawan dan kado bagi Hari Jadi Kota Makassar yang ke-412.

Hal ini mengemuka dalam peluncuran dan diskusi buku Skenario Film Ati Raja, yang diadakan Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Sulsel.

Buku Skenario Film Ati Raja ini naskah ceritanya ditulis oleh Shaifuddin Bahrum, dan skenarionya digarap oleh duo Ancoe Amar dan Yudhistira Sukatanya.

"Film ini berkisah bukan hanya tentang sosok  seniman peranakan Tionghoa, tapi juga tentang  toleransi, akulturasi, nasionalisme dan nilai-nilai budaya Bugis-Makassar," kata Shaifuddin Bahrum yang dikenal sebagai peneliti dan penulis kebudayaan Tionghoa.

Acara dibuka dengan lagu berjudul Ati Raja yang dibawakan dengan merdu oleh Moh. Hasan Sijaya, yang merupakan kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Sulsel.

Usai bernyanyi, Hasan Sijaya berjanji akan membawa buku Skenario Film Ati Raja dan film Ati Raja itu untuk didiskusikan pada forum yang lebih besar, yakni di Perpustakaan Nasional RI.

Yudhistira Sukatanya yang juga tampil sebagai pembicara dalam acara itu menyampaikan, buku Skenario Film Ati Raja merupakan karya pertama yang terbit di Sulsel.

Pria yang punya aktivitas sebagai penulis, sutradara, pemain teater dan dosen ini, berharap kehadiran buku tersebut akan menjadi tradisi baru bagi sineas dan insan perfilman di Sulsel untuk membukukan skenario film mereka.

Buku Skenario Film Ati Raja itu diterbitkan oleh Penerbit Garis Khatulistiwa, Makassar.

Judul film biopik ini diambil dari salah satu karya ikonik Ho Eng Dji, Ati Raja. Sepanjang hidupnya, lelaki kelahiran Kassi Kebo, Maros, tahun 1906 ini, juga menciptakan sejumlah lagu terkenal lainnya, seperti Sailong, Dendang-dendang, dan Pasianteng.

Film drama romantis dengan latar sejarah ini diproduksi oleh Rumah Produksi 786 dan Persaudaraan Peranakan Tionghoa Makassar (P2TM).

Aktor utama film ini, yakni Fajar Baharuddin, yang berperan sebagai Ho Eng Dji.

Fajar mengatakan berusaha menjiwai tokoh yang diperankan. Ia bahkan mengaku mendatangi Pekuburan Cina di Bollangi, Kecamatan Pattalassang, Kabupaten Gowa, untuk berziarah ke pusara Ho Eng Dji

"Saya mappatabe ke pusara mendiang Ho Eng Dji. Ini cara saya sebagai orang Bugis-Makassar yang diajarkan sopan santun," cerita lelaki yang akrab disapa Bojan itu.

Bojan dipilih bukan hanya karena ia memiliki kemampuan akting, tapi juga mempunyai oriental look atau berwajah mandarin, dan juga karena bisa bernyanyi sebagaimana tuntutan skenario.

Proses syuting film ini terbilang singkat, hanya dalam 18 hari. Tapi risetnya terbilang lama. Apalagi harus menghadirkan Makassar tempo doeloe.

Setelah memerankan Ho Eng Dji, Bojan mengaku mendapat banyak pembelajaran, termasuk tentang kebesaran jiwa, kehilangan Ati Raja dalam memandang perbedaan yang merupakan kekayaan Nusantara.

Olehnya, ia sangat berharap film Ati Raja menjadi momen untuk lebih mempersatukan seluruh komponen bangsa.

"Ho Eng Dji adalah mutiara yang hilang. Film ini akan menghadirkan kembali nilai-nilai dan semangat dari Ho Eng Dji, kepada kita sebagai generasi penerus," tutur Bojan.

Arwan Tjahjadi selaku Produser Eksekutif Film Ati Raja, berharap film itu dapat menyatukan para seniman di Sulsel guna melahirkan karya-karya terbaik mereka bagi bangsa dan negara.

Laporan: Rusdin Tompo
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya