Pilar Indonesia
» » Terenyuh Menatap Potret Pengungsi Wamena di dalam Hercules

Terenyuh Menatap Potret Pengungsi Wamena di dalam Hercules

Diposting oleh Pada Jumat, Oktober 04, 2019 | No comments

Potret pengungsi di pesawat hercules TNI AD. Foto: dr Hisbullah Amin
Kasih ibu 
Kasih ibu kepada beta 
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia 

Itulah lagu "Kasih Ibu Kepada Beta" yang terus kusenandungkan sambil terus mengusap air mata yang tak kuasa kubendung, yang terus meleleh di pipiku melihat ibu dan anaknya, persis di sampingku.

Pelan-pelan kurogoh kantong menyalakan telepon seluler, lalu mengambil foto ini. Ibu-ibu hebat ini yang terus mendekap anak-anaknya sepanjang jalan.

Yah, inilah potret ibu dan anak pengungsi Wamena yang terus berdekapan selama perjalanan di dalam pesawat Hercules yang terbang dari Wamena ke Sentani. 15 menit setelah lepas landas, mereka semua langsung pulas, padahal suasana di dalam pesawat Herkules saat itu hiruk pikuk oleh sesaknya penumpang yang duduk melantai, panas, pengap, bau seakan tidak ada artinya, tidak lagi mereka hiraukan, hati mereka plong, bisa berada di perut Hercules, yang merupakan sesuatu yang sangat mewah bagi mereka, impian yang sdh dinanti, karena sudah 10 hari mengantri, ketakutan di penampungan pengungsian menunggu evakuasi keluar dari Wamena.  

Apakah pelarian ini akan berakhir? Belum. Saya tidak tahu ke mana tujuan anak ibu ini, karena tdk sempat bertanya. 

Mari kita sejenak membayangkan bagaimana perjalanan para pengungsi ini. Ketika terjadi penyerangan oleh kaum penyerang, mereka semua lari berhamburan tunggang langgang, panik ketakutan melarikan diri. Ibu-ibu dengan sekuat tenaga berlari sambil menggendong si bungsu, lalu tangan juga memegang si kecil lainnya.

Mereka tidak sempat membawa apa-apa kecuali pakaian yang melekat di badan. Sementara mereka aman di kantor-kantor yang telah disulap menjadi pusat penampungan dengan pengawalan ketat aparat keamanan.

Jika kejadian Senin, 21 September 2019, sementara mereka baru terangkut 1 Oktober 2019, berati selama 10 hari mereka tidur berdekapan tanpa selimut dengan makanan seadanya.

Entahlah, apakah mereka sempat mandi atau ganti pakaian karena fasilitas MCK belum sempat dibangun dan tidak memungkin mereka ke rumah mengambil pakaian pengganti karena situasi keamanan yang mencekam atau mungkin juga rumah mereka sudah habis dibakar. 

Apakah si adek ini akan terus mendekap ibunya? Iya, masih, perjalanan mereka masih panjang. Ibu dan anak ini akan tinggal lagi di pengungsian di Sentani, tetapi dari segi keamanan, sudah jauh lebih aman dari pada ketika mereka masih di Wamena. Berapa lama lagi mereka akan tinggal di pengungsian? Entahlah. Bagaimana nasib mereka selanjutnya, tergantung apakah mereka punya uang atau tidak. Jika mereka punya uang atau dikirimin uang sama keluarganya di kampung, maka bisa beli tiket untuk  pulang. Jika tidak, maka antrian lagi menunggu diangkut sama Hercules, atau menuggu diangkut sama kapal laut Pelni.  

Sebagai tambahan informasi bahwa mereka ini tidak membawa koper pakaian, kecuali sekantong plastik. Entah apa isinya. Jadi, selain butuh makan, mereka juga butuh pakaian, susu bayi, popok, pembalut, sikat gigi, odol, sabun mandi dll. 

Bagi saudara-saudara semua yang menemukan mereka, di mana pun kota transit; Sentani, Merauke, Timika, Biak, Makassar, Surabaya, Jakarta, tolonglah mereka, bantu kebutuhan mereka di saat transit, termasuk makanan saat mereka tiba menunggu jadwal penerbangan berikutnya, seperti biaya bagasi, akomodasi dan lain-lain.

Bapak ibu yang punya akses ke pejabat di maskapai, kargo, perhubungan kapal, rumah makan, mess, tolong dibantu, fasilitasi mereka agar mereka bisa kumpul lagi dengan keluarganya. 

Semoga Allah Yang Maha Pengasih dan Maha penyayang melidungi mereka dalam perjalanan panjangnya, dan selamat sampai di kampung halaman. Aamiin

Penulis: Dr. Hisbullah, dari Para Relawan Indonesia (PRI) 

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya