Pilar Indonesia
» » Sejarah dan Tantangan Santri Milenial, Refleksi Hari Santri Nasional

Sejarah dan Tantangan Santri Milenial, Refleksi Hari Santri Nasional

Diposting oleh Pada Kamis, Oktober 24, 2019 | No comments

Santri adalah pejuang dan bagian penting dari kemerdekaan dan berdirinya NKRI. Karena itu, dilakukan penetapan Hari Santri Nasional, yang telah disahkan oleh Presiden Republik Indonesia pada 2015 lalu melalui Keppres Nomor 22 Tahun 2015. 

Penetapan tersebut merupakan bentuk penghargaan pemerintah terhadap andil besar para santri dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Kemerdekaan Indonesia pada 1945, menurut pemerintah, tidak lepas dari semangat jihad yang ditunjukkan oleh kaum santri. Sejarah ternyata mencatat, tanggal 22 Oktober tersebut berkaitan langsung dengan peristiwa paling bersejarah ketika bangsa Indonesia berjuang mempertahankan kemerdekaannya.

Tonggak sejarah itu meletus melalui deklarasi Resolusi Jihad yang dikumandangkan pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy’ari, di Surabaya, pada 22 Oktober 1945.

Pada hari itu, KH Hasyim Asy’ari menyerukan untuk ikut berjuang mencegah tentara Belanda kembali menguasai Indonesia melalui Netherlands Indies Civil Administration (NICA).

KH Hasyim Asy’ari menyerukan kepada seluruh santri bahwa perjuangan membela Tanah Air merupakan fardhu ain (kewajiban mutlak individu) bagi setiap Muslim di Surabaya. Tak hanya itu, KH Hasyim Asya’ari juga menetapkan fardhu kifayah (kewajiban mutlak sebagian) bagi setiap Muslim di sekitar Surabaya.

Seruan jihad yang digelorakan oleh KH Hasyim Asy'ari ini membakar semangat para santri di Surabaya dan sekitarnya. Pekikan takbir: Allahu Akbar, sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah terdengar di mana-mana. 

Para pejuang menyerang markas Brigade 49 Mahratta yang dipimpin Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby. Serangan ini terjadi selama tiga hari berturut-turut, yaitu dari 27 hingga 29 Oktober 1945.

Terjadilah pertempuran sengit. Pasukan Inggris yang ditugaskan di Kota Surabaya, terjepit. Komandan mereka membujuk Soekarno untuk meredakan situasi. 

Pada 30 Oktober 1945, Soekarno datang dari Jakarta ke Surabaya untuk meredakan amarah arek-arek Suroboyo. Tak lama berselang setelah Bung Karno meninggalkan Surabaya, maka di Surabaya terus terjadi rentetan peristiwa.

Inggris dan Sekutu mengerahkan kekuatan mereka dan menggempur Surabaya dari darat, laut dan udara. Perang ini mengakibatkan jatuhnya korban jiwa yang luar biasa banyak. Sejarah mencatat pertempuran di Surabaya merupakan yang paling sengit dan heroik di semua pertempuran membela kemerdekaan. 

Bahkan, tentara Inggris yang sudah berpengalaman dan mengalahkan pasukan NAZI Jerman, menganggap bahwa Surabaya adalah neraka bagi mereka.

Resolusi Jihad yang dideklarasikan KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945 ini seolah mengingatkan kita mengenai peranan santri dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Santri yang dikenal hanya berkutat pada urusan agama, ternyata ikut berjuang di barisan terdepan bersama pejuang Tanah Air lainnya.

Oleh karena itu, sangatlah penting apabila Presiden sebagai kepala negara kemudian memilih tanggal 22 Oktober ini sebagai Hari Santri Nasional.

Di era genarasi milenial saat ini, tantangan pun berubah, degradasi moral, etika dan sopan santun mulai terkikis oleh derasnya arus kebudayaan dari luaran. Santri pun dituntut untuk menjawab tantangan zaman, pengertian santri bisa diperluas, yaitu semua orang, apa pun latar belakangannya, siapa pun dia, asal bisa mengikuti akhlak  para ulama dan para kiai di pesantren. 

Akhlak para asatidz, kiai dan santri di pesantren yang berupaya mengikuti akhlak Rasulullah, sebab ia diutus ke dunia ini tiada lain untuk menyempurnakan akhlak mulia.  “innamaa buitstu liutammima makarimal akhlaq”, yang artinya; sesungguhnya aku diutus ke dunia ini untuk untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. 

Akhlak Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi Wassalam tersebut diupayakan para kiai dipraktikkan di pesantren agar ditiru dan dipraktikkan oleh para santri. Tidak hanya di pesantren, mereka diharapkan mempraktikkan saat berada di luar pesantren. 

Kapasitas dan spirit seorang santri juga bisa ditularkan bagai virus. Orang yang berakhlak mulia, tidak hanya diwajibkan kepada para santri pesantren. Orang-orang di luar pesantren pun sama wajibnya dan cukup penting memiliki akhlak mulia. Mereka pun dapat disebut sebagai santri. Dokter, tentara, arsitek, pengacara, buruh, petani, nelayan, dosen, guru, wartawan, juga berhak disebut santri, dengan catatan memiliki akhlak terpuji.

Selain berakhlak mulia, para santri adalah orang yang siap mempertahankan agama dan negaranya. Momentum Hari Santri harus diiringi dengan mengimbau gerakan memesantrenkan anak-anak kita, remaja-remaja kita, generasi penerus bangsa baik dengan “nyantri” di pondok-pondok pesantren ataupun dengan pendidikan agama di lingkungan keluarga, serta pendidikan formal dan informal keagamaan sebagai salah satu bentuk perlawanan terhadap penjajahan degradasi moral bangsa.

Para santri pun yang telah mondok bertahun-tahun di pesantren-pesantren di penjuru tanah air, selain senantiasa menjaga akhlak yang terpuji, memiliki integritas, keilmuan di bidang agama, serta keilmuan spesifik lainnya, mereka telah memberi warna terhadap masa kemerdekaan yang harus diisi dengan pembangunan imtaq dan Iptek (SDM), pembangaunan Infrastruktur (pengelolaan SDA) untuk menhargai jasa pahlawan serta para santri pejuang pendahulu yang telah memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan.

Santri kini sedang dan telah  terus aktif dalam mengisi pos-pos pembangunan negeri di semua bidang sebagai pejabat negara, aggota Dewan, hakim, TNI-Polri, dokter dan profesi lainnya. Mereka tidak hanya membawa religiusitasnya, namun juga militansinya sebagai pejuang di semua bidang dan lini zamannya.

Selamat Hari Santri Nasional. Bersama Santri Majulah Negeri.

Penulis : Ibnu Kuddamah, ketua Harian Pengurus Pusat Ikatan Keluarga & Alumni Pondok Pesentren Darul Aman, Gombara, Makassar (PP IKADA Gombara) / Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Panaikang, Kota Makassar. 


Catatan: Tulisan diramu dari berbagai sumber.
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya