Pilar Indonesia
» » Jokowi di Persimpangan Jalan

Jokowi di Persimpangan Jalan

Diposting oleh Pada Jumat, September 27, 2019 | No comments

Hari ini dan kemungkinan beberapa hari ke depan, aksi demonstrasi mahasiswa dan pelajar semakin meluas. Salah satu penyebabnya adalah karena sudah adanya mahasiswa yang meninggal dunia, korban refresif aparat.

Aksi mahasiswa saat ini merangsang memori saya, berputar kencang bagai sentrifugal yang menampilkan kembali rekaman jejak-jejak perjuangan di kampus I IAIN Alauddin Makassar (sekarang UIN), di Jalan Sultan Alauddin, Kota Makassar, pada 21 tahun silam.

Terbayang dengan jelas pada saat hari pertama aksi reformasi, kami menutup separuh badan jalanan di depan kampus untuk persiapan orasi, maka saya bersama Abu Nawas, mahasiswa fakultas dakwah, dan satu orang lainnya, yang saya sudah lupa namanya. Kami bertiga menjadi tameng hidup dengan cara berbaring di aspal untuk menghalau mobil polisi masuk di tengah kerumunan massa kala itu.

Alhasil, mobil pengedali massa (Dalmas) Brimob datang dengan melaju kencang dengan sirine yang meraung-raung, membuat seluruh teman- teman lari kocar kacir, termasuk Abu Nawas dan teman yang satu, maka tinggal sayalah sendiri yang berbaring, dan saya mendengar dari dekat bunyi rem yang diinjak dengan keras oleh pengemudi, dan berhenti pas di samping saya berbaring. Barulah saya beranjak bangun dari aspal pintu mobil terbuka, dan ternyata yang datang adalah bapak Yusuf Manggabarani, yang menjabat sebagai Kapolrestabes pada saat itu.

Pada saat saya mau berlari untuk masuk ke halaman kampus bergabung dengan kawan-kawan mahasiswa lainnya, tiba-tiba jas almamater saya diraih oleh pak Kapolresta, dan perut saya di tempel senpi sambil berkata "kau jangan lari kalau merasa laki laki". Sejenak saya berbalik ke arah beliau, dan saya lihat mukanya tersenyum ke saya, dan akhirnya beliau menyuruh saya masuk ke halaman kampus.

Dari peristiwa inilah yang pada akhirnya membuat saya akrab dengan beliau, dan antara tahun 1999 dan 2000, saya ikut kursus di Bandung. Setiba di sana, saya menghadap ke beliau di Mapolresta Bandung, kala itu beliau menjabat sebagai Kapolrestabes, dan beberapa hari kemudian, saya dipersilakan tinggal di kediaman pribadi beliau di Pasir Kaliki, Kota Bandung.

Aksi pun terus berlanjut saat itu, dan teriakan reformasi terus digaungkan oleh mahasiswa di mana-mana, dan tibalah di hari ketiga, aksi reformasi pada hari tersebut dengan jatuhnya korban jiwa. Pertama dari kalangan mahasiswa, yakni almarhum saudara Arsyad, mahasiswa fakultas tarbiyah, dan kawan saya di IMM.

Peristiwa meninggalnya almarhum Randi, yang juga aktivis IMM di Universitas Haluleo, Kendari, menggugah ingatan saya akan ending dari gerakan reformasi, yaitu dengan jatuhnya kekuasaan orde baru yang ditandai dengan mundurnya pak Harto dari kursi kepresidenan.

Sejarah itu selalu berulang dan bukan tidak mungkin kisah-kisah aksi jalanan kami eksponen 98 bakal terulang di 2019 ini, ditandai dengan beberapa gejala yang sama pada 21 tahun lalu.

Kemarin, bapak Presiden Joko Widodo, dalam jumpa pers di hadapan awak media, beliau katakan bahwa salah satu opsi sebagai jalan tengah yang akan di tempuh untuk meredam aksi massa adalah dengan mengeluarkan PERPPU, pencabutan RUU KPK yang terlanjur selesai diketok palu di DPR, maka menurut hemat saya, ini adalah jalan terjal sang presiden untuk mempertahankan singgasananya berhubung ada beberapa kemungkinan, antara lain kalau pun PERPPU itu dikeluarkan, belum tentu pihak Senayan akan menerima begitu saja.

Kemungkinan kedua adalah bila betul-betul PERPPU berani diterabas oleh Presiden, maka bisa jadi aksi mahasiswa terkonsentrasi di Senayan, dan akan head to head dengan anggota DPR. Namun perlu diingat bahwa mayoritas pengusung PERPPU KPK adalah partai-partai pendukung pemerintah, maka skenario terburuknya adalah anggota parlemen sendirilah yang akan membuat celah untuk menjatuhkan pak Jokowi.

Sejak awal hiruk pikuk kontroversi RUU KPK, baik di legislatif maupun di eksekutif, saya sudah menduga bahwa kontroversi dan penolakan RUU ini akan massif, dan menjadi titik balik bergulirnya reformasi jilid dua.

Penulis: Muhammad Iqbal Majid, mahasiswa IAIN angkatan 94, ekponen 98 (ikbal.pru@gmail.com)

Seluruh isi tulisan, sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya