Pilar Indonesia
» » Pengusaha Walet di Soppeng, Diam-diam Punya Penghasilan Hingga Miliaran

Pengusaha Walet di Soppeng, Diam-diam Punya Penghasilan Hingga Miliaran

Diposting oleh Pada Rabu, Agustus 28, 2019 | No comments

Pertemuan pengusaha walet di Batu-batu, Kabupaten Soppeng
Soppeng, Pilarindonesia.com – Mencengangkan mendengar penghasilan sejumlah pengusaha burung walet di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan.

Sabtu malam (24/8/2019), akhir pekan lalu, Pilarindonesia.com berkesempatan mengunjungi kediaman H. Samad, salah seorang pengusaha burung walet di Batu-batu, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng, sekitar 162 kilometer dari Kota Makassar.

Dihadiri sejumlah pengusaha burung walet lainnya, obrolan di pertengahan malam itu seputar tips mendatangkan burung walet ke gedung tempat bersarang yang mereka sudah sediakan.

Sebelum tiba di tempat itu, terlebih dahulu menemui Asri, seorang teknisi gedung walet, yang dengan keahliannya mampu memancing kedatangan kelompok walet.

Asri sudah mengerjakan cukup banyak gedung walet di Kabupaten Soppeng. Dia pun mengaku mengetahui beberapa pengusaha walet yang telah mengambil keuntungan besar dalam bisnis ini.

Seperti di Desa Labokong, Kecamatan Donri-donri, masih di wilayah Kabupaten Soppeng, Asri menyebut, ada salah satu pengusaha walet yang telah memanen dan menjual sarang walet hingga Rp 800 juta per bulan.

“Kalau di Labokong ini, pembeli sarang walet tidak boleh coba-coba masuk membeli jika tidak membawa uang Rp 2 miliar ke atas. Karena pernah suatu waktu ada pembeli yang masuk ke Labokong, total penjualan pengusaha walet di daerah ini lebih Rp 1 miliar,” katanya.

Asri sendiri, tak hanya sebagai teknisi, kadang ia juga berdagang membeli sarang burung walet. 

Bahkan, di samping rumahnya di Pao Mallimpoe, Desa Belo, Kecamatan Ganra, Kabupaten Soppeng, ia juga memiliki satu gedung sarang walet.

“Sekarang ini harga sarang burung walet mencapat Rp 14.100.000 per kilogram,” terangnya.

Saking menggiurkannya bisnis burung walet ini, kata Asri, ada investor dari Jakarta yang sengaja datang membangun gedung sarang burung walet di Labokong.

Batu-batu, Labokong dan sekitarnya memang termasuk lokasi strategis mendirikan gedung sarang walet, dikarenakan daerah itu dekat dengan tappareng, sebutan untuk danau bagi masyarakat Bugis.

Kelompok burung-burung walet sangat suka bermain-main dengan mengitari danau.    

H. Samad, juga mengaku telah mengambil keuntungan dari bisnis sarang walet ini. Sekali dalam dua bulan, ia biasa menjual ratusan kilogram sarang ke pedagang yang dipanennya di beberapa tempat.

Kendati demikian, tidak jarang ada juga pengusaha walet yang belum beruntung seperti H. Samad. Mereka, justru masih harus melakukan serangkaian tata cara khusus agar burung-burung walet bisa datang, masuk dan bersarang di gedung mereka.

“Di tempat saya, baru hitungan jari waletnya. Belum bisa dipanen dan ditimbang,” celetuk H. Ibrahim, pengusaha walet lainnya.

Irfan
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya