Pilar Indonesia

Ulama dan Da'i Cilik asal Palestina Bersilaturrahim dengan Pejabat Wali Kota Makassar

Da'i cilik dan ulama asal Palestina berpose bersama
Makassar, Pilarindonesia.com - Lembaga Alquds Volunteer Indonesia (AVI) Wilayah Sulawesi Selatan mengadakan silaturahim dengan Pejabat Wali Kota Makassar, Muhammad Iqbal Samad Suhaeb, pada Jumat (21/2/2020).

Iqbal Suhaeb sangat mengapresiasi kegiatan road show da'i cilik dari Palestina, Yousuf Eldaia (14 tahun), dan salah seorang ulama Palestina, Syaikh Arafat Ali M Nassar, tersebut.

"Alhamdulillah, saya mendukung kegiatan ini (road show), karena saat ini banyak berita-berita yang tersebar di media tentang Palestina, namun seringkali dikaburkan. Semoga dengan kegiatan ini masyarakat atau siswa bisa tahu apa yang terjadi sesungguhnya," ujarnya.

Ketua Alquds Volunteer Indonesia Wil. Sulsel, Rahmat Ardiansyah, S.IP menyampaikan rasa bahagianya dapat diterima oleh Pejabat Wali Kota Makassar, dan juga atas dukungannya terhadap program AVI.

"Alhamdulillah, kami sangat senang bisa silaturahim dengan Bapak Pejabat Walikota. Kami mengucapkan terima kasih atas support dari program (road show) kami di Makassar ini," kata Rahmat.

Di pengujung pertemuan itu, Syaikh Arafat Ali memimpin doa untuk kebaikan Pejabat Wali Kota Makassar dan seluruh warga Kota Makassar.

Tampak hadir dalam silaturrahim itu Ketua Forum Ummat Islam Bersatu (FUIB) Sulawesi Selatan, Ustadz Muchtar Daeng Lau.

Sebelumnya, Yousuf dan Syaikh Arafat berkunjung ke sejumlah sekolah di Makassar, yang dimulai sejak 19-22 Februari 2020 lalu.

Tujuan dari kegiatan itu untuk memberikan edukasi tentang Palestina kepada siswa-siswa di Makassar dan masyarakat pada umumnya.

Laporan : Rahmat Ardiansyah

Kuasa Hukum 28 User Condotel Pertegas Kepemilikan Lahan di Aroepala-Hertasning

Syamsuddin, SH MH (kiri)

Makassar, Pilarindonesia.com – Syamsuddin, SH., MH., selaku kuasa hukum dari 28 warga, menegaskan tentang status kepemilikan lahan seluas 1.800 meter persegi yang berlokasi di depan bekas gedung milik Mubyl Handaling, yang berada di Aroepala, Jalan Hertasning, Kota Makassar.

Dia menjelaskan, 28 warga tersebut sebelumnya merupakan user dari PT Multi Sao Asri untuk kepemilikan Condotel Multiniaga Junction, perusahaan milik Mubyl Handaling.

Di tengah perjalanan, rencana bisnis itu macet, dan para user pun menuntut ganti rugi pengembalian investasi lewat proses peradilan.

“Hakim pengadilan pun mengabulkan permohonan gugatan kami. Putusannya keluar pada 2019 lalu. Di dalam amar putusan tersebut, yang intinya meminta Mubyl Handaling membayar kerugian beserta bunga dan denda kepada 28 user sebesar Rp 18 miliar, dan lahan seluas 1.800 meter persegi inilah sebagai ganti ruginya,” kata Syamsuddin kepada wartawan, Sabtu (22/2/2020).

Kendati demikian, setelah lahan tersebut berhasil diduduki dan sudah dalam penguasaan para user, dia menyebut, justru ada pihak tertentu yang terkesan hendak melakukan upaya penyerobotan.

Tak hanya itu, Syamsuddin menyebut, pihak itu juga mengerahkan sejumlah orang untuk mengintimidasi warga yang telah melakukan aktivitas usaha kecil-kecilan di atas lahan itu.

“Saya sempat berbicara dengan pimpinan orang suruhan itu, dan saya menjelaskan mengenai status lahan ini. Malah, kami disuruh menggugat ke pengadilan. Untuk apa?” ujarnya.

Syamsuddin juga memastikan, papan pengumuman akan rencana pembangunan masjid yang sudah ditanam di atas lahan tersebut, bukan pihaknya yang memasang.

“Kami anggap itu hanya modus saja, dan kami akan tetap mempertahankan lahan ini,” tegasnya.

Akan tetapi, Syamsuddin menyampaikan bahwa pihaknya akan melepas lahan itu apabila calon pembeli melakukan penawaran yang sepantasnya.

“Para 28 user ini sebenarnya tetap ingin menjual lahan tersebut untuk mendapatkan uangnya kembali. Namun, harga yang diberikan harus sesuai dengan kerugian mereka. User kami tak mematok harga, tapi nilai tawar yang diberikan harus sesuai harga," terang bendahara Peradi Sulawesi Selatan itu.

Achmad

CIRC Gelar Diskusi Ekonomi Syariah

Dialog CIRC
Makassar, Pilarindonesia.com - Center for Islamic Research and Consultancy (CIRC) menggelar Diskusi Ekonomi Syariah dengan tema, "Dasar-dasar Muamalat Syariah", di Warkop Yelo, Parang Tambung, Kota Makassar, Sabtu (22/2/2020).

Direktur Eksekutif CIRC, Burhanuddin Marbas, menguraikan kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman tentang ekonomi syariah kepada masyarakat.

"Diskusi ini diadakan untuk memberi pemahaman pentingnya melaksanakan ekonomi berdasarkan sistem syariah. Saat ini, banyak masyarakat tidak paham, sehingga terjebak dalam riba," tandasnya.

Mahasiswa Pasca Sarjana UMI ini menegaskan, masalah ekonomi syariah merupakan persoalan yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.

Olehnya itu, lanjut pendiri Roemah Kreativitas Indonesia (RKI) itu, CIRC akan membedah masalah ekonomi syariah secara rutin dengan  menghadirkan pakar dan praktisi ekonomi.

Sementara itu, pemateri Faisal Basalamah, menguraikan sesungguhnya yang menjalankan sistem keuangan syariah dalam bentuk bank di dunia adalah Rasulullah.

"Sesungguhnya Rasulullah pertama mendirikan sistem keuangan bank syariah, yakni Baitul Mal. Sekarang ini, Baitul Mal menjadi lembaga keuangan paling kuat di dunia," papar mantan bankir di BPD Syariah Sulsel ini.

Bagi Faisal, menilai berdagang dengan sistem ekonomi syariah paling aman dan. berkah. Sehingga, tidak ada alasan dalam meninggalkan sistem ekonomi syariah bagi kaum muslimin. Ke depan, pengusaha syariah ini berharap, ummat memperkuat sistem ekonomi syariah dengan memperkuat Baitul Mal.

"Saya mengimbau umat memperkuat kembali Baitul Mal. Ini pondasi ekonomi Syariah," paparnya.

Diskusi Ekonomi Syariah edisi pertama ini dihadiri beberapa perwakilan organisasi islam, seperti Islamic Indonesia Bisnis Forum (IIBF), Brigade Muslim Indonesia (BMI), Forum Ummat Islam Bersatu (FUIB), Pemuda KPPSI Sulsel, Sahabat Muslim.

Laporan: Burhanuddin Marbas

Direktur Pristac Tampil sebagai Pembicara di Dialog Kebangsaan Muktamar III LIDMI

Dialog kebangsaan LIDMI di Kampus Unhas
Makassar, Pilarindonesia.com - Muktamar III Pimpinan Pusat Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia (Muktamar III PP LIDMI) mengadakan Dialog Kebangsaan yang bertempat di Baruga A.P Pettarani Universitas Hasanuddin Kota Makassar Sulawesi Selatan, Sabtu, (22/02/2020).

Dialog kebangsaan ini mengusung tema "Tantangan Pendidikan di Era 4.0 dan Masa Depan Peradaban Indonesia". Menghadirkan pemateri Dr. Muhammad Ardiansyah, M.Pd yang menjabat sebagai Direktur Pesantren for the Study of Islamic Thought and Civilization (Pristac/Setingkat SMA) Depok.

Era disrupsi adalah era terjadinya perubahan secara cepat yang kita alami secara tiba-tiba dan membuat kita harus cepat ber-adaptasi dengan perubahan tersebut.

"Era disrupsi adalah era yang sangat cepat perubahannya, sehingga kapan kita tidak siap dengan perubahan itu maka kita akan terpental," ujarnya.

Islam memiliki cara pandang tersendiri dalam menyikapi perubahan itu, tentu dengan cara yang adil dan bijak. Perubahan itu pula ada yang sifatnya mutlaq dan mengalami perubahan.

"Dalam Islam sifat perubahan itu ada dua, yang pertama adalah perubahan yang tidak berubah, contohnya masalah Imam dan adab. Dan cakupan adab itu sangat luas. Adab kepada Allah, guru dan lainnya. Perubahan boleh terjadi tapi iman dan adab tidak boleh berubah. Perubahan ada yang tetap dan ada yang terus berubah. Yang tetap kita jaga seperti adab dan keimanan. Dan yang berubah seperti tekhnologi informasi akan kita ikuti," lanjut Alumni UIKA Bogor ini.

Penulis buku Syair-Syair Pendidikan Adab Imam Syafi'i ini kemudian memaparkan tentang konsep adab terhadap ilmu dengan tidak memisahkan antara ilmu agama dengan ilmu aqliyah.

"Konsep adab terhadap ilmu, yakni ilmu fardhu ain dan fardhu kifayah. Ilmu itu tidak boleh di kotomi terpisah antara agama dengan ilmu hukum, ilmu kedokteran dan ilmu yang lainnya. Islam tidak memisahkan antara ilmu agama dengan geografi. Sebagaimana penjelasan di dalam Al-Qur'an," paparnya.

Terpisahnya agama dengan ilmu pengetahuan, sebenarnya bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional. Karena tujuan pendidikan adalah melahirkan generasi yang beriman dan berakhlak mulia.

"Tujuan pendidikan nasional adalah untuk melahirkan manusia-manusia yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia. Karena hanya pendidikan seperti ini yang akan melahirkan manusia yang bermanfaat di segala bidangnya baik di kedokteran, hukum dan lainnya," sambungnya.

Olehnya itu, Dr. Muhammad Ardiansyah mengajak kepada seluruh peserta Dialog Kebangsaan agar mengambil peran dalam membangun arsitek peradaban kedepan.

"Setiap kita harus mengambil peran peradaban di masing-masing potensi yang kita miliki dan menjadi bagian dari arsitek peradaban itu. Lahirnya peradaban adalah karena besarnya peranan setiap orang di bidangnya," tutupnya.

Laporan : Muhammad Akbar (Infokom PP LIDMI)

Mengapa Ummat Islam Harus Peduli Palestina? Ini Penjelasan Tiga Da'i Kondang Kota Makassar

Ustadz Mujtaba Mustafa
Makassar, Pilarindonesia.com – Tiga da’i kondang turut menjadi pembicara dalam Tabligh Akbar bertema “Dari Makassar untuk Palestina Tolak The Deal of The Century” yang diadakan Alquds Volunteer Indonesia (AVI) di Masjid Baiturrahman, Panaikang, Jalan Urip Sumoharjo, Kota Makassar, Jumat (21/2/2020), sore kemarin.

Masing-masing DR. Mujtaba Mustafa, MA., selaku pemerhati masalah Palestina; Ustadz Fadlan Akbar, Lc., MHI., dosen Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar, serta Ketua Forum Ummat Islam Bersatu (FUIB) Sulawesi Selatan, Ustadz Muchtar Daeng Lau, SPdI.

Dalam ceramahnya, Ustadz Mujtaba menyampaikan tentang pentingnya ummat Islam memperlihatkan kepedulian terhadap bangsa Palestina.

Menurutnya, warga Palestina sebenarnya tidak memerlukan kepedulian dan bantuan dari ummat Islam, termasuk di Indonesia.

Ustadz Fadlan Akbar
“Tetapi, kita yang sebenarnya memerlukan dan membutuhkan mereka, karena kenapa? karena di sana mereka sedang menjaga dan mempertahankan Masjid Al Aqsha,” kata Ustadz Mutjaba.

Dia menjelaskan, dalam hadist Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam, disebutkan; jangan pernah berpayah-payah bepergian, kecuali di tiga tempat, selain di Kota Suci Makkah dan Kota Suci Madinah, juga di Masjid Al Aqsha, Palestina.

Olehnya, Ustadz Mujtaba menegaskan bahwasanya ummat Muslim sedunia sangat berhutang budi kepada warga Palestina, sebab mereka yang sesungguhnya sedang menjalankan kewajiban seluruh penganut agama Islam dalam menjaga dan mempertahankan Masjid Al Aqsha.

“Meski mereka diusir, dipukuli, dan sebagainya, mereka tidak pernah menyerah untuk terus menjaga Al Aqsha. Sehingga, sudah sepatutnya kita membantu mereka dan mendonasikan sebagian rezeki yang kita miliki untuk meringankan beban dan membantu perjuangan saudara kita di Palestina,” tuturnya.

Adapun Ustadz Fadlan, menyampaikan tentang keutamaan Bumi Syam, yang di dalamnya terdapat negeri Palestina, sebagaimana yang disebutkan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam kitab suci Alqur'an dan dijelaskan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam di dalam hadist-hadist-nya.

Ustadz Muchtar Daeng Lau
Anggota Dewan Syariah Wahdah Islamiyah tersebut membacakan ayat yang terdapat di dalam surah Al-A’raf, surah Annbiya serta surah Al-Isra.

“Begitu diberkahinya negeri Syam. Bahkan, di dalam hadist Rasulullah, disebutkan para malaikat Ar Rahman membentangkan sayap-sayapnya di atas Bumi Syam,” terang Ustadz Fadlan.

Adapun Ustadz Muchtar Daeng Lau, mengingatkan kepada setiap generasi muda untuk senantiasa mempersiapkan diri menjadi pejuang pembebasan Masjid Al Aqsha dari cengkraman penjajah Zionis Yahudi Israel.

Da’i ormas Hidayatullah Makassar tersebut mengatakan, dengan keberkahan yang dimiliki Bumi Syam, patutlah kiranya bagi setiap kaum Muslim selalu termotivasi untuk menjadi pejuang dan pembela Bumi Syam, terutama negeri Palestina.

“Nah, untuk menjadi pejuang dan pembela Al Aqsha, kepalan tinju harus selalu dilatih dan dikuatkan, serta anak-anak kita harus kita jaga dan didik sejak kecil, dan insya Allah, kelak akan menjadi bagian dari pembebasan Masjid Al Aqsha dan bentuk penjajahan lainnya yang ada di Bumi Syam,” jelas Ustadz Muchtar.

Kegiatan tabligh akbar tersebut juga dihadiri sejumlah aktivis dari Brigade Muslim Indonesia (BMI) Sulawesi Selatan serta praktisi ekonomi Islam sekaligus penggerak 212 mart di Kota Makassar, Ustaz Hidayat Hanis Hanis.
Faiz